Selasa, 28 April 2020

Pandangan Imam Masjid Istiqlal Soal Tarawih & Salat Idul Fitri Selama Pandemi Corona

Pandangan Imam Masjid Istiqlal Soal Tarawih & Salat Idul Fitri Selama Pandemi CoronaSalat Tarawih. ©2013 Merdeka.com/imam buhori
Merdeka.com - Bagi muslim ibadah bulan suci Ramadan 1441 Hijriah tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) membuat pelaksanaan ibadah seperti salat tawarih di bulan penuh berkah ini dilakukan di rumah sesuai imbauan Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Peringatan itu dilakukan guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Sebelum menerapkan aturan beribadah di bulan Ramadan, pemerintah telah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB sebagai antisipasi penyebaran Covid-19. Namun imbauan salat tarawih di rumah itu masih menuai pro dan kontra menyusul ditemukannya masyarakat melakukan ibadah di masjid.
Melihat hal itu, Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar berpandangan bahwa masyarakat lebih mengendepankan sunnah ketimbang ibadah yang wajib. Padahal menurut dia, menjaga kesehatan lebih dan menghindari penyakit merupakan sesuatu yang wajib.
"Jadi, salat tarawih itu sunah pergi ke masjid itu sunnah, tapi mempertahankan kesehatan dan menghindari penyakit itu wajib. Jadi beragama itu jangan sampai mengedepankan sunah dari pada yang wajib," ujar Nasaruddin saat dihubungi merdeka.com, Selasa (28/4).
Nasaruddin mengingatkan kepada masyarakat untuk jangan mengedepankan sunah dibandingkan ibadah yang wajib. Lebih baik masyarakat mencegah bahaya, itu lebih utama dibandingkan mengejar manfaat.
"Ada pada suatu saat Nabi melihat sahabatnya yang sudah tidak makan siang. Kenapa? kata Rasulullah, saut sahabat, saya puasa daim puasa terus menerus setiap hari. Kata Nabi, hei saya nabi saya Rosul tapi saya tidak puasa daim saya tidak puasa terus menerus. Jadi agama juga mengajarkan kita memberikan sesekali badan ini makan siang," terangnya.
Selain itu, dia juga menceritakan kejadian lainnya pada saat sahabat Nabi datang dan mengatakan tidak pernah tidur malam, karena ia salat terus beribadah terus. Nabi menjawab, saya nabi saya rosul tapi tidak setiap saat juga. Jadi Nabi pun tetap memberikan waktu tubuh beristirahat, tidak sepanjang malam beribadah.
"Jadi beragama secara manusiawi itu yang sebenarnya jangan emosi ya. Kenapa Nabi meninggalkan umatnya di Mekah dan hijrah ke Madinah, kalau Nabi memakai emosi memperjuangkan umatnya di Mekah dan tidak hijrah ke Madinah maka selesai sudah. Dan itu yang sering menjadi sorotan kaum oreintalisme. Tetapi di prinsip Islam dan prinsip Nabi, mundur selangkah untuk meraih kemenangan itu lebih baik," ungkap Nasaruddin.
Oleh sebab itu, ia menjelaskan, kondisi saat ini yang ada di zona merah seperti Jabodetabek, bila tidak dianjurkan salat berjamaah di masjid adalah keputusan yang tepat.
"Walaupun pergi ke masjid itu sama, ya sunah kalau di sana mendatangkan bahaya ya jangan. Jangan kalian menceburkan diri ke dalam kebinasaan. Itu hadistnya. Karena menolak bahaya lebih baik, dari pada mengejar manfaat," imbau dia.

Larangan Tegas Salat Tarawih di Zona Merah Covid-19

Dia menilai harus diberlakukan aturan tegas larangan salat tarawih di masjid sesuai zona-zona kerawanan penyebaran virus Corona. Zona yang dimaksud, kata Nasaruddin, jika ada tiga zona merah, kuning dan hijau itu bisa diberlakukan aturan yang menyesuaikan kodisi tersebut.
Oleh karena itu, dia mengatakan yang terpenting adalah manajemen dari pemerintah dalam memberlakukan aturan tersebut. Bila zona merah sudah harus pemberlakukan larangan secara tegas.
"Sedangkan, semisal zona hijau katakanlah penduduk di pedalaman, di pulau-pulau terpencil tidak pernah terkontaminasi dengan penduduk luar. Belum ada kasus juga, ya jangan dilarang untuk salat tarawih," katanya.
"Tapi kalau di dalam masyarakat yang sudah ada mobilitas dengan penduduk luar, maka berlaku lah hukum sesuai protokol yang sudah ditentukan," tambah Nasaruddin.

Salat Idul Fitri Diganti Salat Duha

Selain mengimbau salat tarawih, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19. Bila pandemi ini belum berakhir, maka masyarakat dilarang menunaikan salat Idul Fitri berjamaah di masjid maupun lapangan.
Nasaruddin menjelaskan bahwa masyarakat bisa tetap mengganti ibadah salat Idul Fitri yang sunnah dengan salat Duha. Lanjut dia, menurut Imam Syafi'i khutbah salat Jumat dan Idul Fitri itu 40 orang ke atas kan. Kalau tidak 40 orang ke atas itu tidak satu Jumatan maka, harus berdiri lagi dan melakukan salat Dzuhur kalau salat Jumat.
"Ya salat Id itu kan sunnah ya, janganlah salat Id, salat Jumat aja enggak. Ya kan, salat Jumat itu wajib loh diganti dengan kewajiban lain salat dzuhur. Jadi kalau salat idul fitri itu sunnah, ya diganti dengan yang lain, salat Duha. Karena kalau kita salat idul fitri di rumah kan tidak cukup," paparnya.
Sementara itu, dia mengimbau kepada masyarakat untuk tetap mengikuti anjuran-anjuran dari pemerintah. Karena, virus corona di Indonesia masih menyebar dan sangat berbahaya.
"Untuk tata caranya mengikuti sesuai aturan salat Duha, untuk salat Idul Fitri itu sunnah tidak wajib jadi tidak mesti. Jangankan orang yang salat fardhu pada saat Rosul di Madinah hujan deras dan mengintruksikan untuk salat di rumah saja enggak usah ke masjid. Itu hujan biasa, lah saat ini hujan Corona apalagi kan," kata Nasaruddin.
3 dari 4 halaman

Zakat Fitrah di Tengah Pandemi Covid-19

"Hukum Wajib Zakat ditengah pandemi. Ya, bagi yang mampu wajib, bagi yang tidak mampu tidak wajib," sebutnya.
Nasaruddin menuturkan, bagi masyarakat yang masih memiliki rejeki untuk berzakat segerakan lah. Jangan menunggu mendekati hari raya Idul Fitri, karena saat ini banyak masyarakat yang membutuhkan bantuan akibat wabah Corona saat ini.
"Iya zakat fitrah itu barang siapa yang masih bisa untuk makan besok itu, jadi diwajibkan. Sedangkan kalau yang sudah tidak bisa maka kan besok tidak perlu berzakat fitrah. Malah seharusnya dikasih zakat, kalau perlu didahulukan ke mereka yang kelaparan. Jika menunggu nanti, terlalu lama kalau kita menunggu waktu hingga Idul Fitri," terangnya.
4 dari 4 halaman

Teori Konspirasi Bukan Jalan Terbaik Selesaikan Masalah Covid-19

Lebih jauh, Nasaruddin menghimbau kepada masyarakat untuk selalu menjaga kekompakan jangan saling menyalahkan sesama elemen masyarakat. "Wabah virus ini bukan hanya Indonesia kan tapi ini seluruh dunia kan. Jadi kita harus kompak untuk bersama-sama kelawan pandemi Covid-19. Yang kedua ini bukan program dari bagian manusia, tapi dari alam ya Ini virusnya," ujarnya.
Oleh karena itu, Nasaruddin mengatakan jika masyarakat ingin berfikiran bahwa virus Covid-19 adalah sebuah konspirasi. Alangkah lebih bijak saat ini untuk berfikir menyelematkan manusia.
"Kalau semisal mau berfikiran konspirasi, lebih baik mengenyampingkan teori konspirasi pada seperti ini. Karena teori konspirasi itu bukan jalan yang terbaik menyelesaikan permasalahan," ungkap dia.
"Lupakan teori konspirasi, atau enggak konspirasi tapi saat ini bagaimana kita berfikir untuk menyelamatkan orang yang sakit, supaya yang sehat tidak sakit. Bagaimana orang yang kelaparan itu bisa makan. Dan bagaimana orang yang bisa makan tetap bertaham ekonominya," sambungnya.
Atas semua itu, dia mengajak seluruh masyarakat untuk berfikir lebih arif, bijak melihag kondisi saat ini. Jangan saling menyalahkan satu sama yang lain, karena semuanya tengah berjuang, pemerintah, ulama, masyarakat sedang bersusah payah menghadapi pandemi Covid-19.
"Ini buka salah pemerintah, ini adalah musibah, kita tidak tahu apa yang akan direncanakan Allah, karena ini sebuah pembelajaran. Kita perlu berfikir arif. Sudah waktunya kita berfikir bijaksana, jangan kita saling salah-salahan. Jadilah kita yang mengambil bagian masing-masing menyelesaikan persoalan Covid-19," pungkasnya

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pandangan Imam Masjid Istiqlal Soal Tarawih & Salat Idul Fitri Selama Pandemi Corona

0 Comments:

Posting Komentar